Site icon Berita Terkini

Membangun Desa Tangguh : DPD IKAL Lemhannas NTT Siapkan Aplikasi Sahabat PMI

Dok : Foto bersama DPD IKAL Lemhannas NTT dan Gubernur NTT

Nusa Tenggara Timur, telah lama menjadi saksi bisu perjalanan ribuan warganya sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Jauh sebelum hiruk pikuk globalisasi seperti sekarang, tepatnya sejak tahun 1934, jejak migrasi dari tanah Lamaholot ini sudah terukir, menjadikan Flores Timur sebagai salah satu pionir pengirim pekerja migran di Indonesia. Namun, di balik sejarah panjang ini, tersimpan narasi kompleks tentang perjuangan, kerentanan, dan pencarian asa di tanah rantau.

Wilayah ini memiliki data tingkat kemiskinan termasuk rendah. Menurut Data BPS, angka kemiskinan di Flores Timur sebesar 11,29 persen. Nomor 2 terendah di NTT setelah kota Kupang. Hal ini berbanding terbalik dengan potensi sumberdaya alam pertanian dan perkebunan dan pendapatan perkapitanya.

Namun, peta migrasi di NTT tidak hanya terpusat pada Flores Timur. Kabupaten lain seperti Belu dan Sumba Barat Daya, serta Kota Kupang, juga tercatat sebagai daerah dengan jumlah PMI yang tinggi saat ini. Belu, misalnya, memiliki angka kemiskinan sebesar 13,82 persen dengan pertumbuhan ekonomi kategori sedang, sementara Sumba Barat Daya menunjukkan angka kemiskinan yang sangat tinggi, mencapai 27,2 persen. Kondisi ini sangat kontras dengan Kota Kupang yang mencatat angka kemiskinan terendah, yaitu 8,24 persen, dan pertumbuhan ekonomi yang kuat sebesar 6,4 persen. Perbandingan ini menunjukkan beragam faktor ekonomi dan sosial yang memengaruhi pola migrasi di berbagai wilayah NTT.

Dengan membandingkan seluruh data tersebut, secara makro dapat disimpulkan bahwa ada beragam aspek yang memengaruhi kasus PMI di NTT. Namun, data kasus PMI non-prosedural terbanyak secara konsisten berasal dari Flores Timur. Fenomena ini telah menjadi fokus utama pemerintah melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT. Meskipun berbagai upaya perbaikan dan pencegahan telah dilakukan, kasus-kasus ini terus berulang. Hal ini mengindikasikan adanya permasalahan sistemik yang menyebabkan penanganan migrasi ilegal menjadi sangat sulit.

Kejadian migrasi non-prosedural yang terus berulang ini, secara sosiologis, akan memberikan dampak kurang positif terhadap citra PMI secara keseluruhan. Sebagai daerah yang kental dengan kekuatan budaya Lamaholot, pemerintah daerah perlu lebih serius memperhatikan aspek psikologis dari para PMI dan keluarga mereka, yang seringkali menanggung beban stigma dan trauma akibat pengalaman migrasi yang tidak aman.

Solusi Berbasis Desa: Konsep "Desa Tangguh - Sahabat PMI"

Melihat kompleksitas dan dampak sistemik ini, perlu pendekatan yang revolusioner. Salah satu model penanganan yang diusulkan adalah secara kolaboratif dan berbasis teknologi informasi, dengan mengusung konsep Desa Tangguh - Sahabat PMI. Ini adalah sebuah konsep untuk menciptakan ekosistem yang aman dan mendukung bagi para pekerja migran dan keluarganya, dengan fokus pada pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan ekonomi di tingkat desa.

Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mengurangi kerentanan, tetapi juga membangun kemandirian dan martabat masyarakat NTT. Lokus utama dari strategi ini adalah desa, tempat di mana para pahlawan devisa ini berasal. Penilaian wilayah lokus akan didasarkan pada Indeks Ketahanan Wilayah, dengan memperhatikan aspek sejarah migrasi, jumlah kasus PMI non-prosedural, serta jumlah PMI yang mewakili tiga pulau utama di NTT (Flores, Sumba, dan Timor). Berdasarkan data BP3MI, Kabupaten Flores Timur, sebagai wilayah dengan sejarah PMI tertua sejak 1934 dan jumlah kasus non-prosedural tertinggi, tentu akan menjadi prioritas utama. Termasuk juga Kabupaten Belu dan Sumba Barat Daya dengan jumlah PMI tertinggi.

Menggeser Mindset dengan Dukungan Teknologi

Selain intervensi fisik dan sosial, kunci keberhasilan adalah mengubah mindset PMI dan masyarakat secara keseluruhan. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang partisipatif. Dengan strategi ini, desa-desa di Flores Timur, SBD dan Belu dan seluruh NTT dapat melangkah maju, tidak lagi sekadar mengirimkan pahlawan devisa, tetapi juga menciptakan pahlawan pembangunan untuk tanah kelahiran mereka sendiri.

Untuk mendukung perubahan mindset dan efektivitas program, DPD IKAL Lemhannas NTT bersama BP3MI NTT dan Korwil Ikatan Sarjana Katolik Bali Nusra akan meluncurkan aplikasi Sahabat PMI. Integrasi teknologi aplikasi pada perangkat seluler (mobile phone atau Android). Aplikasi ini dapat menjadi platform utama untuk layanan informasi terkait migrasi aman, advokasi, pengaduan kasus, pendataan PMI, dan layanan umum lainnya. Dengan demikian, informasi dan dukungan dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh masyarakat desa, memperkuat sistem perlindungan dan pemberdayaan secara digital. #Yakobus Stefanus Muda

Exit mobile version