Site icon Berita Terkini

Keberagaman: Sumber Kekuatan atau Kelemahan

{"aigc_info":{"aigc_label_type":0,"source_info":"dreamina"},"data":{"os":"web","product":"dreamina","exportType":"generation","pictureId":"0"},"trace_info":{"originItemId":"7533876579714223413"}}

Keberagaman, jika dikelola dengan tepat, adalah aset tak ternilai yang mampu menjelma menjadi kekuatan dahsyat. Kita bisa belajar banyak dari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju dan pasca kemerdekaan. Semangat Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan fondasi kokoh yang telah terbukti mampu menyatukan perbedaan dan mencapai tujuan besar.

Bangsa Indonesia juga terus belajar dari kompleksnya sejarah Kekaisaran dan Kekhalifahan di Timur Tengah dan Eropa, atau kekuatan penyeimbang seperti Tiongkok dan Jepang di Asia Tengah dan Timur. Indonesia belajar banyak dari sejarah kebhinekaannya dan menjadikannya sebagai nilai-nilai hidup dalam kancah nasional dan politik dunia.

Keberhasilan Indonesia dalam Konferensi Asia-Afrika adalah bukti nyata bagaimana peran strategisnya mampu mengelola keberagaman politik global. Dengan semangat Dasa Sila Bandung, Indonesia mampu memberikan dampak signifikan di kancah global, memimpin, dan memainkan peran penting dalam menjaga dinamika dunia

Namun, dalam perjalanannya, Indonesia kerap masih “tersandera” oleh dinamika internal yang mencerminkan belum optimalnya pemahaman akan kekuatan sejati Bhinneka Tunggal Ika. Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah menjadi potensi besar untuk nilai-nilai global.

Tantangan internal ini mengingatkan kita pada nubuat Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Sebuah peringatan profetik yang menyoroti kompleksitas permasalahan bangsa dari dalam.

Meskipun keberagaman telah final dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), konflik internal seringkali menjadi pelemahan. Konflik semacam ini, di masa lalu, tak jarang menguras energi dan melemahkan ketahanan bangsa.

Menyongsong periode Indonesia Emas, resolusi konflik internal adalah keniscayaan. Perpecahan akibat perbedaan harus dirajut dengan semangat kebhinekaan. Bangsa Indonesia harus bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Saatnya bagi Bangsa Indonesia untuk fokus pada pembangunan jangka menengah dan jangka panjang, serta menindak tegas segala upaya yang berpotensi memecah belah bangsa.

Pembangunan Jangka Menengah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini akan menjadi ujian penting. Program hilirisasi, pembangunan pusat ekonomi baru, ketahanan pangan, serta tata kelola pemerintahan akan menjadi tolak ukur capaian menuju periode Indonesia Emas.

Semoga Presiden Prabowo, bisa membawa Indonesia menuju gerbang Indonesia Emas dengan memanfaatkan momentum untuk membuktikan bahwa keberagaman, di tangan yang tepat, adalah kekuatan, bukan kelemahan. Mari Kita Bangun Negeri. #

oleh Yakobus Stefanus Muda. SP

Exit mobile version