Cerita

Dua Kisah, Satu Jalan: Pohon Tumbang dan Naluri Brigade

Malam itu, heningnya udara Nabire – Papua membungkus mobil yang kami tumpangi. Kami adalah staf perusahaan yang sedang bertugas, melakukan kunjungan ke desa terdekat. Rute kami adalah jalan provinsi yang mulus beraspal, sebuah rute yang biasa kami lewati.. Kami melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri perjalan malam pedesaan yang samar diterangi cahaya bulan.

Sekitar 15-20 menit di belakang kami, satu kedaraan yang ditumpangi personel Brimob, juga dalam perjalanan, tetapi dengan misi yang berbeda. Kami tidak tahu mereka ada, dan mereka juga tidak tahu kami ada. Keberadaan kami di jalur yang sama adalah kebetulan belaka.

Tiba-tiba, sekitar lima menit setelah melewati sebuah desa, kami dikejutkan oleh pemandangan di depan. Sebuah pohon berdiameter sekitar 20-30 cm tumbang melintang di tengah jalan. Ujung pohon yang berdimater sekitar 5-10 cm, menghalangi jalur, diselimuti oleh tumbuhan rambat. Pohon itu tumbang dari sisi kiri jalan. Kami memperlambat laju kendaraan, mengamati situasi, dan setelah yakin bahwa kami masih bisa lewat, kami mengambil sisi paling kanan dan berhasil melewati rintangan tersebut dengan mudah. Kami biasa dengan insiden ini. Mungkin karena angin kencang atau tanah yang tidak stabil. Lalu, kami melanjutkan perjalanan, menyelesaikan tugas, dan kembali ke mess tanpa memikirkan pohon itu lagi.

Keesokan harinya, kami baru mengetahui cerita versi lain tentang pohon tumbang. Beberapa personel Brimob datang ke tempat kami, wajah mereka masih tegang. Mereka menceritakan sebuah insiden “penghadangan” semalam. Mereka menyebutkan nama desa yang sama dan mengatakan bahwa KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) telah merubuhkan pohon untuk menghambat laju mereka. Mereka mendeskripsikan bagaimana pada jarak sekitar 30 meter, mereka menghentikan kendaraan, mematikan lampu, dan mundur perlahan. Mereka kemudian mengambil posisi siaga di sisi jalan dan di samping mobil, mengintai dalam kegelapan selama hampir setengah jam. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke mess, menganggap situasi tersebut terlalu berisiko.

Saat itu, saya menyela dan menjelaskan bahwa itu adalah murni pohon tumbang, bukan taktik penghadangan. Kami menceritakan bagaimana kami melewatinya dengan mudah. Ekspresi wajah mereka berubah dari tegang menjadi bingung, lalu perlahan-lahan menjadi lega. Mereka baru mengerti bahwa yang mereka hadapi bukanlah ancaman, melainkan murni kejadian alam.

Kisah ini menunjukkan betapa kuatnya dampak mental dan psikologis dari medan operasi. Meskipun lokasi kami berada di daerah pesisir Papua yang relatif “hijau” dan aman serta jauh sekali dari medan kontak senjata. Memang, bayang-bayang konflik selalu ada dibenak mereka. Pengalaman ini adalah bukti nyata bagaimana trauma psikologis medan operasi bisa menjadi mekanisme bertahan hidup. Pilihannya adalah keluar dari “situasi krisis” untuk menghindari lebih banyak dampak.

Akhirnya, saya sangat berterima kasih kepada para personel Brimob yang telah bertugas di berbagai medan operasi. Kejadian pohon tumbang ini menjadi pengingat yang kuat tentang beban mental dan psikologis yang mereka pikul setiap hari.

Meski kami hanya melewati pohon tumbang biasa, bagi mereka, pohon itu adalah alarm bahaya, sebuah tanda yang langsung memicu insting bertahan hidup yang telah dilatih dan diasah di medan operasi. Saya sepenuhnya memahami bahwa insting ini, meskipun kadang terlihat seperti naluri untuk menyerang, sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri. Pengalaman di daerah konflik telah memaksa mereka untuk selalu waspada, di mana setiap bayangan atau suara bisa jadi ancaman nyata. Karena itu, saya sangat menghargai dedikasi dan kewaspadaan mereka dalam melindungi kami semua.

#Yakobus Stefanus Muda