Konsep “Mitreka Satata” bukan sekadar warisan dari masa keemasan Majapahit, tetapi juga sebuah prinsip strategis yang telah membuktikan relevansinya melampaui batas geografis. Secara historis, pengaruh Kerajaan Majapahit tak hanya melingkupi Nusantara, tetapi juga menyentuh wilayah yang kini menjadi Thailand dan Filipina. Meskipun beberapa catatan menyebutkan ekspansi militer, hubungan yang terjalin juga mencakup pengakuan kedaulatan, pertukaran budaya, dan aliansi dagang yang harmonis.
“Mitreka Satata” mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kolaborasi yang setara, bukan dari dominasi. Pada level nasional, ini menjadi kunci untuk mengukuhkan ketahanan. Konsep ini mendorong seluruh kementerian, lembaga negara, dan aparat keamanan untuk bekerja sebagai mitra strategis, menghilangkan ego sektoral demi kepentingan bangsa.
Prinsip “Mitreka Satata” dapat menjadi landasan filosofis bagi strategi nasional, regional, hingga global. Sebuah “features” yang merangkum bagaimana semangat ini dapat menjadi panduan strategis bagi pemerintahan ataupun kementerian yang membidangi.
Di kawasan Asia Tenggara, “Mitreka Satata” dapat menjadi doktrin utama dalam diplomasi. Prinsip ini menekankan pentingnya menghormati kedaulatan masing-masing negara tanpa intervensi politik, yang menjadi pondasi bagi perdamaian dan stabilitas. Dalam menghadapi isu-isu sensitif seperti tren proteksionisme global dan kebijakan ekonomi yang mengutamakan unilateralisme serta kejahatan transnasional dan ketegangan di Laut Cina Selatan.
Indonesia dapat memimpin dengan pendekatan kolaboratif. Dengan memfasilitasi dialog yang setara dan saling menghormati, Indonesia dapat memperkuat peran sentral ASEAN sebagai komunitas yang solid dan berdaulat.
Pada panggung global, Indonesia dapat mempromosikan “Mitreka Satata” sebagai solusi terhadap ketidaksetaraan yang masih dominan. Konsep ini dapat menjadi landasan bagi Indonesia untuk bertindak sebagai mediator yang netral dan adil dalam konflik internasional. Lebih jauh, Indonesia bisa mengadvokasi kemitraan yang lebih seimbang antara negara maju dan berkembang dalam menghadapi isu-isu global seperti perubahan iklim, perdagangan, dan akses teknologi. Dengan memposisikan diri sebagai pembawa semangat “Mitreka Satata”, Indonesia akan memperkuat identitasnya sebagai kekuatan moderat yang mengedepankan keadilan dan kolaborasi demi terciptanya tatanan dunia yang lebih harmonis. #Yakobus Stefanus Muda

