Site icon Berita Terkini

Menata Ulang Standar Keselamatan Labuan Bajo Melalui Pendekatan Berbasis Risiko

Labuan Bajo telah mengukuhkan diri sebagai representasi pariwisata premium Indonesia di mata dunia. Namun, di balik kemilau perairan Taman Nasional Komodo, tersimpan kecemasan yang kian nyata. Pesona alamnya kini kian terancam oleh rentetan kecelakaan kapal yang terus berulang, menciptakan awan mendung bagi citra pariwisata kita. Kondisi ini membawa kita pada sebuah titik balik di tahun 2025, di mana standar keselamatan kapal wisata bukan lagi sekadar urusan teknis pelabuhan, melainkan telah bertransformasi menjadi keresahan publik yang mendalam.

Menanggapi situasi kritis tersebut, Komunitas Green Lovers bergerak melakukan observasi dan koordinasi intensif di lapangan bersama para pemangku kepentingan pariwisata hingga otoritas kebencanaan. Dari serangkaian diskusi tersebut, kami menemukan sebuah realitas yang kontradiktif saat membaca data keselamatan yang ada.

Jika merujuk pada Data Laporan Evaluasi Dirjen Perhubungan Laut Tahun 2024, rasio kecelakaan transportasi laut berada di bawah 1% dari setiap 10.000 pelayaran. Secara statistik teknis, angka ini dianggap “rendah” atau bahkan “aman”. Namun, Green Lovers menilai statistik tersebut justru menyesatkan secara kualitatif. Ada kesenjangan pemahaman yang lebar karena data kuantitatif tersebut tidak dielaborasikan dengan dampak psikologis, khususnya pada pasar pariwisata di Labuan Bajo.

Statistik 1% tersebut gagal memotret kenyataan bahwa satu kecelakaan yang viral mampu menghantam persepsi hampir 500.000 kunjungan wisatawan (IVC) di Labuan Bajo. Bagi industri pariwisata, kecelakaan bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan kegagalan sistemik yang mampu meruntuhkan reputasi destinasi di skala global dalam sekejap.

Kegagalan sistemik ini berakar pada prosedur administratif yang cenderung bersifat statis. Selama ini, kita terjebak dalam budaya check-the-box—asal dokumen lengkap, kapal dianggap laik. Namun, fakta di laut berbicara lain. Banyak armada yang secara administratif dinyatakan sempurna tetap mengalami insiden akibat faktor dinamis yang tidak terpotret dalam kertas: mulai dari modifikasi struktur ilegal, kelelahan kru yang bekerja melampaui batas, hingga penurunan performa mesin akibat minimnya perawatan. Kita harus berani mengakui bahwa keselamatan sejati tidak ditemukan di dalam map arsip, melainkan pada kesiapan operasional yang teruji di tengah ganasnya arus laut.

Oleh karena itu, Green Lovers mendesak adanya transformasi radikal menuju Pendekatan Berbasis Risiko (Risk-Based Approach). Dalam sistem ini, pengawasan tidak lagi dipukul rata. Kapal dengan profil risiko tinggi—seperti kapal kayu berusia tua atau armada yang melintasi rute arus ekstrem seperti Selat Lintah—wajib mendapatkan inspeksi yang jauh lebih ketat. Dengan memegang prinsip Risiko = Peluang x Dampak, kita harus mampu memetakan bahaya secara presisi dan melakukan mitigasi sebelum nyawa menjadi taruhan.

Mitigasi risiko ini tentu harus dibarengi dengan kesiapan pertolongan yang mumpuni. Green Lovers memandang perlunya peningkatan status Pos SAR Labuan Bajo menjadi Kantor SAR (Basarnas) yang mandiri. Dengan status Kantor SAR, Labuan Bajo akan memiliki kewenangan operasional yang lebih luas, personel yang lebih banyak, serta armada penyelamatan yang lebih lengkap. Mengingat Labuan Bajo adalah Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), kapasitas respons darurat tidak boleh lagi berstatus “pos” yang terbatas, melainkan harus setingkat kantor yang mampu memimpin operasi penyelamatan berskala besar secara mandiri dan cepat.

Sebagai langkah konkret lainnya dari manajemen risiko tersebut, kami juga mendesak pemerintah untuk segera menerapkan Moratorium (Penghentian Sementara) Izin Baru bagi Kapal Wisata. Kebijakan ini krusial karena dua alasan utama: pertama, terkait daya dukung (carrying capacity) wilayah agar jalur pelayaran tidak semakin padat yang meningkatkan risiko tabrakan; dan kedua, agar otoritas memiliki ruang untuk fokus membenahi kualitas armada yang sudah ada ketimbang terus menambah beban pengawasan pada armada baru yang belum tentu terstandarisasi.

Namun, segala upaya teknis ini akan sia-sia jika sistem pengelolaannya tetap kaku atau resisten terhadap perubahan. Green Lovers menemukan adanya kecenderungan pihak tertentu yang lebih memprioritaskan eksistensi lembaga dibandingkan keterbukaan untuk perbaikan sistem. Padahal, keselamatan laut bersifat sangat dinamis dan membutuhkan kelenturan melalui prinsip Perbaikan Berkelanjutan (Continuous Improvement). Prosedur atau SDM yang terbukti gagal mencegah kecelakaan harus segera dirombak tanpa harus menunggu birokrasi yang memakan waktu bertahun-tahun.

Namun lebih dari itu, perbaikan ini hanya bisa terwujud melalui sinergi kelembagaan yang kokoh. Kita harus mengedepankan semangat persaudaraan NTT sebagai fondasi utama. Semua pihak yang berkarya di Labuan Bajo adalah orang Indonesia, dan banyak di antaranya adalah putra-putri NTT. Marilah kita kedepankan nilai-nilai kearifan lokal NTT yang menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa memiliki. Jangan lagi ada ruang bagi nilai-nilai perpecahan atau ego sektoral dalam membangun Labuan Bajo. Kita punya tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga rumah kita ini tetap aman, karena pariwisata premium bukan hanya soal pemandangan indah, tapi tentang rasa aman dan hangatnya persaudaraan yang kita berikan kepada setiap jiwa yang datang berkunjung.

Pada akhirnya, menata ulang standar keselamatan adalah tentang membangun budaya yang jujur dan berani mengakui kekurangan. Melalui Pendekatan Berbasis Risiko, Komisi Independen dan Moratorium Izin. Kita sedang berupaya memastikan bahwa setiap nyawa yang berlayar di perairan Labuan Bajo terlindungi oleh sistem yang cerdas. Komunitas Green Lovers berkomitmen penuh untuk mengawal perubahan ini, karena pariwisata premium bukan hanya soal pemandangan yang indah, tapi tentang rasa aman yang tak ternilai bagi setiap jiwa yang datang berkunjung.

Oleh: Yakobus Stefanus Muda, SP. C.Med
(Komunitas Relawan Pariwisata Green Lovers)

Exit mobile version