Site icon Berita Terkini

Reddite Caesari et Deo

Antara Bakti Iman, Beban Adat, dan Pahitnya Ekonomi di Pelataran NTT

Suasana di dalam gereja tua itu hening, hanya suara deru angin pantai yang sesekali masuk lewat celah jendela. Di depan samping altar, sebuah pengumuman dibacakan. Bukan tentang jadwal doa, melainkan daftar tunggakan. Beberapa umat disebut masih belum melunasi iuran ditahun sebelumnya.

Di kursi umat, saya tertegun. Sebagai seseorang yang hari itu datang untuk mensosialisasikan peluang kerja di luar Flores, angka itu terasa ganjil. Di perantauan, seorang pekerja tanpa keahlian tanpa ijazah bisa mengantongi lebih dari Rp100.000 sehari. Logikanya, dua hari bekerja sudah cukup untuk melunasi kewajiban setahun. Di kampung, cukup menyisihkan Rp1.000 sehari, dan urusan tuntas.

Namun, jawaban Ketua Dewan Paroki setelah misa meruntuhkan logika angka saya. “Bapak, jangankan masyarakat, PNS saja untuk mengeluarkan seribu rupiah saja mereka tahan, apalagi masyarakat. Uang sungguh sulit beredar di kampung ini,” ujarnya dengan nada pilu.

Realitas ini mencekik. Meski data BPS menyebutkan angka kemiskinan di kabupaten tersebut adalah yang terendah setelah Kota Kupang. Namun, kenyataan di meja makan warga berkata lain. Uang tunai adalah barang mewah. Mengapa? Karena NTT terjepit dalam belenggu biaya sosial dan adat yang luar biasa besar. Di sinilah ayat “Reddite Caesari et Deo”—Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah—menemukan ujian paling beratnya.

Masyarakat kita hidup dalam struktur yang menuntut pengeluaran besar untuk urusan adat—mulai dari urusan “masuk minta”, pesta pernikahan, hingga upacara kematian yang bisa menghabiskan tabungan bertahun-tahun dalam hitungan hari. Di sinilah letak sensitivitasnya: mengeluarkan Rp1.000 untuk iuran gereja atau Rp100.000 untuk kebutuhan produktif menjadi isu yang sangat berat, karena uang yang ada seringkali sudah “tergadai” untuk eksistensi sosial dan tuntutan tradisi.

Padahal, di balik beban itu, NTT memiliki nilai kearifan lokal yang luar biasa, Gotong Royong dan Solidaritas Sosial. Jika semangat kolektif ini ditransformasi ke arah yang produktif, kita punya kekuatan untuk melompat dari jebakan kemiskinan.

Upaya kolaborasi ini, kini mulai digagas Pemerintah Provinsi melalui ekosistem seperti NTT Mart. Ini bukan sekadar toko, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan kesadaran sosial dan ekonomi dalam satu ekosistem yang saling terhubung. NTT Mart adalah visi bersama untuk mengangkat produk tiap daerah, lembaga, dan komunitas ke pasar yang lebih luas. Sesuai dengan semangat Reddite Caesari et Deo, para pelayan daerah (pegawai pemerintah) wajib menuruti arah pimpinan untuk membangun daerah dengan etos kerja yang disiplin dan jujur serta mengaplikasikan semangat kearifan lokal. Inilah bentuk “pemberian kepada Kaisar” yang nyata: birokrasi yang mendukung ekosistem ekonomi rakyat, bukan sebaliknya.

Solidaritas sosial ini tentu sedang diuji untuk melewati melewati tujuh dekade yang sulit secara ekonomi. Jika kita perhatikan data BPS kabupaten/Kota ada angka kemiskinan yang terus menurun, walau sedikit demi sedikit. Perubahan ini dapat menjadi momentum bersama. Dapat dihayati dari perkembangan ini, adanya NTT Mart adalah nada optimisme yang digaungkan Pemerintah Propinsi, menjadi jangkar bagi kita. .

Pertumbuhan yang “sedikit” ini akan menjadi ledakan besar jika kita berani mengubah solidaritas sosial selama ini menuju solidaritas produktif-kolaboratif. Sudah saatnya masyarakat NTT berhenti merasa “miskin” dan bekerja sendiri-sendiri. Kita bisa membangun bersama dengan ikut dalam ekosistem yang sedang dibangun pemerintah. Dengan menjadikan setiap warga sebagai pemilik bisnis sosial, kita tidak lagi hanya “memberi”, tapi kita sedang “membangun” martabat kita sendiri.

Namun, kita juga sadar bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan. Energi batin yang kuat itu harus segera diteruskan dan dikukuhkan dengan kebijakan, tata kelola yang profesional, serta dukungan anggaran yang nyata. Regulasi hadir sebagai payung hukum yang melindungi, tata kelola hadir sebagai penjaga integritas agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga, dan anggaran menjadi bahan bakar penggerak yang konkret.

Dengan perpaduan antara kesucian niat (Deo) dan ketegasan manajerial (Caesari), NTT tidak lagi hanya akan menjadi penonton pertumbuhan, melainkan pemilik sah atas masa depan ekonominya sendiri.

oleh : Yakobus Stefanus Muda

Exit mobile version