LABUAN BAJO – Komunitas Relawan Pariwisata Green Lovers menegaskan komitmennya untuk mendorong transformasi Labuan Bajo dari destinasi wisata bahari murni menjadi pusat Sport Tourism (wisata olahraga) berskala internasional. Langkah ini dipandang sebagai strategi jitu untuk memperluas “jendela ekonomi” Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui diversifikasi produk wisata yang mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Pendiri Green Lovers melihat bahwa Labuan Bajo memiliki keunggulan kompetitif-substitutif yang unik. Jika selama ini wisatawan hanya berfokus pada Taman Nasional Komodo, kehadiran fasilitas olahraga standar internasional seperti sarana atletik, berkuda, dan olahraga air akan menjadi alternatif (substitusi) yang setara daya tariknya.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan laut. Sport tourism adalah jawaban untuk menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal, mulai dari sektor perhotelan hingga UMKM,” ujar Y. Stef Muda. Hal ini sejalan dengan persiapan menyambut PON XXII tahun 2028, di mana Labuan Bajo akan menjadi salah satu tuan rumah utama.
Pengembangan sport tourism di Labuan Bajo didukung oleh angka Initial Visitor Capital (IVC) yang sangat solid. Dengan catatan kunjungan hampir 500.000 wisatawan dalam tiga tahun terakhir, Labuan Bajo sudah memiliki basis tourism yang kuat.
Komunitas Green Lovers menilai IVC ini adalah modal besar untuk menarik investor masuk ke kawasan darat seperti Parapuar dan Golomori. Dengan adanya fasilitas olahraga yang mumpuni, Labuan Bajo tidak hanya akan dikunjungi oleh pelancong rekreasi, tetapi juga oleh atlet, official, dan penonton event internasional yang memiliki daya beli tinggi.
Tahun 2025 menjadi bukti ketangguhan pariwisata Labuan Bajo. Jumlah kunjungan wisatawan manca negara terus meningkat secara significant. Meskipun tanpa dukungan masif dari pemerintah pusat seperti tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan organik (organic growth) tetap stabil yang menunjukan nilai Strong Growth Baseline.
Komunitas Green Lovers menekankan bahwa untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, aksesibilitas menjadi kunci. Keunggulan geografis Labuan Bajo di Indonesia Tengah, yang didukung oleh potensi penerbangan langsung dari Asia dan Australia, memberikan keunggulan telak dibandingkan destinasi lain seperti Mandalika atau Papua. Aksesibilitas yang mudah akan memastikan keberlangsungan event-event olahraga internasional (seperti IFG Marathon) yang pada gilirannya akan menstabilkan tingkat hunian hotel (Horeka) sepanjang tahun.
