Sosial Budaya

Transformasi Pancasila dari Simbol Menuju Realitas Kehidupan

Merujuk pada perjalanan Bung Karno dalam menemukan nilai-nilai Pancasila di Ende, muncul sebuah pertanyaan mendasar bagi kita semua: bagaimana kita mengejawantahkan semangat ‘Makin Pancasila’ dalam kehidupan hari ini?

Jika kita menengok pengalaman di Kota Ende, kita akan menyadari bahwa Pancasila sering kali terjebak dalam siklus ingatan musiman. Kita seakan ‘lupa’ sepanjang tahun, lalu tiba-tiba diingatkan oleh seremoni upacara dan peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Pada tahap ini, Pancasila hanya menyentuh permukaan sebagai simbol ritualistik.

Namun, Pancasila sesungguhnya adalah sebuah spektrum yang harus kita lalui. Tahap berikutnya adalah pendalaman historis, di mana kita tidak hanya mengingat, tetapi menyelami jejak sejarah. Ketika kita mengunjungi situs-situs sejarah, kita tidak sekadar melihat bangunan, melainkan berupaya memahami pergulatan batin para pendiri bangsa. Di titik ini, Pancasila menjadi sebuah pengetahuan yang hidup.

Transformasi yang lebih dalam terjadi ketika Pancasila bertemu dengan kearifan lokal. Inilah yang ditemukan Bung Karno saat mengasingkan diri di Ende. Pancasila bukanlah teori yang datang dari ruang hampa, melainkan kristalisasi dari cara masyarakat hidup, gotong royong, dan menghargai sesama.

Tahap selanjutnya, ketika kita melangkah keluar dari zona nyaman budaya kita sendiri. Misalnya, bagaimana masyarakat dari satu suku berinteraksi dengan komunitas lain di tanah rantau. Pancasila memasuki uji kebinekaan. Ini adalah ruang di mana nilai-nilai Pancasila diuji dalam gesekan dan akulturasi budaya. Apakah kita mampu tetap memegang teguh persatuan saat berada di tengah perbedaan yang kontras?

Pada spektrum tertinggi, Pancasila menjadi kiblat nilai global. Ini adalah tantangan terberat sekaligus peluang terbesar bagi generasi masa kini. Bung Karno pernah membuktikan bahwa Pancasila mampu membalikkan narasi kolonialisme di forum PBB, menginspirasi lahirnya Gerakan Non-Blok, hingga puncaknya pada Konferensi Asia Afrika di Bandung. Pancasila tidak bicara tentang dominasi, tetapi tentang kemanusiaan yang universal.

Dalam kehidupan masa kini, Pancasila sering kali hanya menjadi narasi yang terpisah dari realitas. Saat ini, kita sedang mencari cara untuk mengaktualisasikan kembali nilai-nilai Pancasila. Lompatan kebijakan memang perlu dilakukan, namun di sisi lain, yang lebih krusial adalah bagaimana implementasinya di lapangan. Kebijakan pemerintah bisa saja keliru, atau kebijakan yang baik justru dilaksanakan dengan cara yang tidak tepat.

Tantangan inilah yang membuat nilai-nilai Pancasila kian memudar. Kita perlu mencari pendekatan baru untuk mengaktualisasikannya. Hal ini menuntut keselarasan antara ajaran nilai Pancasila dengan realitas ekonomi yang kita jalankan.

Koperasi, misalnya, adalah perwujudan konkret dari ekonomi Pancasila. Namun, tantangannya adalah bagaimana mentransformasi koperasi yang sering dianggap kaku oleh anak muda menjadi sebuah model bisnis kolaboratif yang relevan bagi Gen Milenial dan Gen Z. Jika kita mampu mengintegrasikan semangat teknologi dan kreativitas generasi muda ke dalam korporasi rakyat yang berbasis gotong royong, maka Pancasila bukan lagi sekadar narasi masa lalu. Ia akan menjadi kompas nyata yang memandu generasi masa kini dalam membangun kemandirian ekonomi sekaligus memperkokoh fondasi berbangsa dan bernegara

Oleh : YakobusStefanus Muda
Tulisan kedua ini mengingatkan memori saat periode reformasi 98, saat P4 dihapuskan. (tulisan 2 dari 4)

One thought on “Transformasi Pancasila dari Simbol Menuju Realitas Kehidupan”

  1. Tulisan ini bagus relevan dan inspiratif..seharusnya pejabat / pemerintah introspeksi dan koreksi diri seberapa jauh mengamalkan sila-sila Pancasila.
    Untuk generasi muda Gen Milenial dan Gen Z hrs secara dini difahamkan ttg Pancasila dan pengamalannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *