IKAL ISKA STRATEGIC CENTER NTT. #
Sebagai sebuah refleksi yang jujur, harus diakui bahwa denyut antusiasme masyarakat di akar rumput dalam menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 saat ini belum sepenuhnya bergemuruh di ruang publik. Situasi ini sangat beralasan dan menuntut kepekaan nurani dari para pemangku kebijakan. Khususnya di wilayah Pulau Flores dan sekitarnya, luka batin dan fisik masyarakat masih menganga akibat hantaman gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang meluluhlantakkan permukiman, fasilitas pendidikan, hingga infrastruktur dasar.
Kendati demikian, jika kita menarik garis sejarah yang lebih panjang, NTT bukanlah entitas wilayah yang asing dengan badai krisis. Sejarah mencatat bagaimana hantaman gempa dan tsunami yang berulang hampir tiap tiga dekade, tantangan geografis kepulauan, iklim yang kering, hingga kerentanan pangan telah menjadi menu keseharian hidup rakyat ini. Namun, dari rahim penderitaan itulah karakter ketangguhan (resilience) masyarakat Flobamorata menempa baja. Sejarah membuktikan bahwa keterbatasan ruang dan himpitan sumber daya tidak pernah mampu mematikan mental pejuang untuk terus bertahan, berdiri tegak, dan bangkit menyongsong masa depan.
Dari sudut pandang ekonomi makro, harus diakui pula bahwa neraca keuangan daerah NTT saat ini sedang tidak berada dalam kondisi yang ideal. Di tengah keterbatasan fiskal yang menantang inilah, sempat muncul wacana dan pemikiran kontroversial dari pihak-pihak tertentu untuk menawarkan kembali atau mengalihkan penyelenggaraan PON ke daerah lain yang dinilai lebih siap secara infrastruktur. Wacana seperti ini tentu sangat disayangkan dan harus disikapi dengan penolakan yang tegas tanpa kompromi. PON 2028 adalah harga mati; ia harus tetap dilaksanakan di bumi Flobamorata, di tanah Nusa Tenggara Timur dan NTB.
Justru di sinilah letak variabel krusialnya. Momentum PON 2028 adalah kesempatan emas yang wajib didukung secara mutlak oleh pemerintah pusat maupun daerah tingkat II. Pemerintah pusat tidak boleh menutup sebelah mata atau bersikap setengah hati di balik dalih keterbatasan daerah, melainkan harus melihat jauh ke depan mengenai multiplier effect (dampak berganda) yang masif bagi kebangkitan ekonomi regional. Ajang multi-event skala nasional ini harus menjadi katalisator ampuh untuk merajut kembali asa dan menggerakkan roda ekonomi kerakyatan di NTT.
Segala kendala yang ada tidak boleh dijadikan alasan klise untuk mundur selangkah pun. Tantangan ini harus dijawab dengan kehadiran tenaga-tenaga ahli (experts) yang mumpuni, dukungan sumber daya yang berkeadilan, serta alokasi pendanaan operasional yang terukur. Dalam tata kelola anggaran, efisiensi mutlak dikedepankan. Dibutuhkan tim yang handal dan berpikiran visioner untuk meneropong ekosistem budgeting secara komprehensif, sehingga prinsip catur sukses dapat diwujudkan secara nyata: sukses penyelenggaraan, sukses administrasi, sukses prestasi, serta sukses dampak ekonomi dan keberlanjutannya.
Kini, di tengah dinamika yang ada, mata kita tertuju pada satu babak penentu yang segera tiba: pembentukan Pengurus Besar (PB) PON dalam waktu dekat.
Langkah strategis ini harus menjadi momentum kebangkitan bersama. Seluruh aspek teknis dan manajerial persiapan harus dikebut lebih dini melalui koordinasi yang terpadu dan lintas sektor. Keberhasilan penyelenggaraan ajang akbar pertama dalam sejarah Flobamorata ini tidak boleh diukur hanya dari satu indikator semata, melainkan harus dicapai secara utuh melalui kerangka catur sukses yang melibatkan seluruh elemen bangsa.
Segala keterbatasan yang membayangi NTT hari ini bukanlah vonis untuk menyerah kalah. Sebaliknya, keterbatasan ini harus disulut menjadi bahan bakar utama untuk membuktikan ketangguhan kolektif kita sebagai sebuah bangsa pejuang. Banyak sekali elemen masyarakat, tokoh profesional, diaspora, dan pemerhati daerah yang memiliki kerinduan tulus untuk bergandengan tangan membangun NTT, mulai dari membina bibit-bibit atlet muda sejak usia dini, mendukung para pelatih dan official secara swadaya, hingga mengawal setiap jengkal rangkaian pra-event hingga puncak kemeriahan di tahun 2028.
Mari kita songsong PON XXII Tahun 2028 dengan menyatukan tekad baja, merapatkan barisan, dan membuang jauh segala bentuk keraguan serta pesimisme. Berbekal ketahanan historis yang telah teruji melintasi dekade, NTT pasti mampu mengubah setiap rintangan menjadi batu loncatan menuju masa depan yang gemilang.
Mari kita buka pintu kesempatan seluas-luasnya, libatkan seluruh potensi terbaik bangsa dari berbagai penjuru, dan bersama-sama kita kumandangkan seruan abadi: Ayo bangun NTT bersama!